Ganti Judul dan ALt sendiri

Yulianto, Nyalakan Pijar Literasi bersama Boneka Pustaka Bergerak

Bekas wadah telur terletak begitu saja. Ia terlihat tidak berarti. Padahal, telah berjasa menjaga telur-telur tetap pada posisi. Melalui perantara Yulianto, tidak ada yang menyangka bahwa bekas wadah telur bisa digunakan sebagai rak buku.
Seiring berjalannya waktu, saya bisa membeli rak yang lebih layak dari upah sebagai storyteller atau pendongeng yang sebenarnya tidak seberapa,” kenang Yuli, panggilan akrabnya.

Rumah Baca Bintang, Harapan Baru Dunia Literasi

Boneka Pustaka Bergerak

Berbekal buku-buku yang disusun dalam rak-rak sederhana ini, siapa sangka justru dari sana tumbuh banyak harapan baru di dalam dunia literasi. Rumah Baca Bintang ramai didatangi anak-anak sekitar yang ingin belajar.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Yuli mengambil kesimpulan bahwa dia yakin bahwa rendahnya minat baca di Indonesia bukan karena kemalasan membaca, tetapi persoalan akses.
"Anak-anak punya akses kurang terhadap buku-buku, jadi kelihatannya minat baca rendah. Padahal, kalau mereka dekat dengan buku, tentu mereka akan senang hati membaca buku. Rumah Baca Bintang, menjadi tempat tumbuhnya harapan kecil," ucap Yuli pada Januari 2023 silam.
Yuli menerapkan aturan khusus di rumah baca yang dikelolanya. Anak-anak boleh bermain, asalkan sudah membaca buku. Cara itu ternyata efektif untuk membuat anak-anak membaca buku. Kebetulan, selain buku yang saat itu sudah berjumlah ribuan, Yuli juga mengoleksi banyak mainan agar anak-anak betah berlama-lama berada di Rumah Baca Bintang.

Kiprah Tanpa Lelah Pahlawan Literasi 

Kiprah Yulianto sebagai pegiat literasi di Grobogan, Jawa Tengah, kiranya layak membuatnya menyandang gelar pahlawan literasi sebab demi perkembangan literasi di kampung kelahirannya, ternyata banyak hal yang telah dilakukan dan dikorbankan.

Sejak 2011, pemuda 33 tahun yang berasal dari Dusun Jajar, Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung itu merintis Rumah Baca Bintang. Namun, rumah baca itu menurutnya baru benar-benar berdiri pada 2015.

Diakui Yulianto, ia terbebani dengan gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dari Universitas Terbuka (UT) yang disandangnya. Oleh sebab itu, ia menyatakan mesti ada sesuatu yang dilakukannya di bidang kepustakaan dan membawa banyak manfaat bagi sekitar.

Sejak itu, pemuda berambut rambut cepak dan berkacamata itu terus menambah koleksi bukunya hingga mencapai ribuan. Uniknya, Yulianto yang memiliki nama panggung Yulianto Delaveras itu menyulap ruang tamu rumah orang tuanya yang sederhana menjadi layaknya perpustakaan.

Satukan Gerak, Terus Berdampak, Semangat Yulianto

Boneka Pustaka Bergerak

Gerakan literasi Yulianto tidak riuh. Ia berjalan pasti dalam sepi. Tahun demi tahun berjalan tanpa ada yang mengetahui gerakan literasinya. Sampai akhirnya, gerakan literasi Yuli tercium sebuah komunitas pegiat literasi bernama Pustaka Bergerak.
”Diajak ke Pustaka Bergerak Indonesia. Sebelumnya, pergerakanku tersamarkan bertahun-tahun. Namun, karena dianggap unik, bergerak (bercerita dan menggerakkan literasi, red) menggunakan boneka, akhirnya diajak bergabung ke Pustaka Bergerak hingga diundang ke Universitas Indonesia (UI) dalam suatu acara,” papar Yuli.
Gerakan literasi Yuli tidak lagi berjalan dalam sepi. Bahkan, Yuli mampu menginisiasi lima taman baca di Grobogan. Kelima taman baca itu rutin ia kirimi berbagai buku yang didapatkan dari donasi berbagai pihak.

Buah perjuangan Yulianto membawanya pada langkah yang lebih panjang lagi. Seiring berjalannya waktu, makin banyak apresiasi yang didapatkannya. Pada 2021, Yulianto, S.I.Pust terpilih sebagai penerima apresiasi SATU Indonesia Awards dari Provinsi Jawa Tengah dalam bidang pendidikan dengan judul kegiatan Boneka Pustaka Bergerak.

Jejak seorang Yuli ternyata juga menginspirasi seorang penulis, Lia Heliana, sehingga ia menjadikan Yulianto sebagai tokoh dalam ceritanya yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Buku cerita anak itu menjadi bahan bacaan yang dapat memperlihatkan suka dan duka Yuli ketika menjaga nyala pijar literasi. 

Perjalanan literasi di Grobogan menjadi saksi pemberat amal jariah Yulianto yang telah berpulang pada 19 September 2024 itu. Al-Fatihah. Langkah demi langkah kecil telah ia tularkan pada lima taman baca. Selanjutnya, satukan gerak diperlukan agar jejak literasi Yulianto terus menyebarkan dampak. (*)

Sumber:
  • Anwar, S. 2023. Kisah Yulianto Gemakan Literasi di Grobogan. https://berita.murianews.com/saiful-anwar/400160/kisah-yulianto-gemakan-literasi-di-grobogan. Diakses pada 16 Oktober 2025.
  • Tanaya, I. 2025. Pegiat Literasi itu Telah Berpulang: Menyalakan Lilin di Gelapnya Literasi. https://www.inatanaya.com/2025/10/pegiat-literasi-telah-berpulang.html. Diakses pada 16 Oktober 2025. 
#APA2025-KSB
Karunia Sylviany Sambas
Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar